Selasa, 04 September 2007

Kecoak Dalam Tempurung

Oleh : Rejak


Milis Silungkang / Yahoogroups Silungkang adalah sebuah wadah berkumpulnya puluhan, ratusan (atau bahkan mungkin nanti bisa mencapai ribuan) orang-orang Persatuan Keluarga Silungkang (PKS), baik yang perantauan atau yang bukan yang di gunakan sebagai ajang mendiskusikan bagaimana memajukan Silungkang, berbincang santai, ataupun silaturahmi antar sesama miliser. Sebelumnya saya sudah pernah mendengar tentang keberadaan milis ini, namun masih enggan untuk bergabung karena dulu saya berpikir cara bergabung ke sebuah milis itu ribet. Pada akhirnya, beberapa minggu yang lalu saya memutuskan untuk mencoba bergabung karena sekedar ingin tahu seperti apa kiranya pemikiran orang-orang Silungkang, karena saya pikir bisa menjadi pengalaman yang berguna juga untuk saya sendiri karena bisa menjalin hubungan dengan orang-orang tua dan mudanya, juga selain dari beberapa desakan para miliser senior untuk mendorong saya terjun ke dalam milis ini.


Ketika saya bergabung di milis ini dan melihat postingan-postingan para miliser senior yang telah lebih dahulu menjadi member daripada saya, ada satu hal yang mengusik saya yang kadang membuat saya harus mengerutkan dahi. Satu hal yang aneh itu adalah paradigma beberapa miliser (terutama mereka yang aktif dalam PKS itu sendiri), yaitu sebuah pemikiran tradisional yang masih terbawa oleh tradisi lawas di Silungkang itu sendiri. Mungkin bila milis ini di khususkan bagi mereka orang Silungkang yang bertempat tinggal di Silungkang saja, saya rasa tidak menjadi masalah, karena ya itu memang urusan mereka. Namun yang menjadi masalah adalah, para miliser ini sebagian besar adalah perantauan yang bertempat tinggal di Jakarta, Surabaya, Malang, dll. Dan mereka-mereka yang akan melahirkan anak-anaknya di kota tempat mereka merantau tersebut. Dan di mana anak-anak tersebut akan menimba ilmu, dan bersosialisasi di kota itu yang tengah mereka tinggali itu. Sudah sewajarnya bila mereka harus menyesuaikan diri dengan kultur di daerah tersebut dan pola pikir mereka ikut bergerak mengikuti zaman.


Namun yang saya lihat di sini banyak sekali miliser yang masih ’merasa’ hidup di zamannya masing-masing, tanpa mau melihat bahwa kini kaki-kaki mereka tengah berpijak pada ruang dan waktu yang berbeda. Mereka seakan masih mabuk kemenangan masa lalu, dan terus bangga akan kejayaan negeri mereka dahulu, dan ingin mewarisi tradisi mereka yang agung kepada anak cucu mereka yang tanpa mereka sadari tengah hidup di lingkungan yang berbeda dari kampung halaman mereka dahulu. Tradisi asli yang mereka bawa ke Jakarta secara tak langsung telah merenggut kebebasan mereka yang muda-muda dalam bergerak. Tradisi tersebut bagai akuarium, yang memelihara generasi muda seperti ikan-ikan mas, di mana mereka para generasi muda yang benar-benar merasakan zaman ini menjadi merasa terpenjarakan, di pelihara sedemikian rupa, di beri makan pelet, lalu menjadi ajang pameran orang-orang Non Silungkang seperti di sebuah museum. Contoh tradisi yang bisa di bilang usang adalah, adanya pengharusan pernikahan sesama urang awak. Memang tradisi ini kuno, namun sampai detik ini saya yakin masih ada yang bersikekeuh mempertahankan tradisi ini. Sesungguhnya apa alasan mereka hingga memaksakan hal yang konyol tersebut?. Sungguh! Sama sekali tak terlihat sedikitpun apa yang di sebut dengan hak asasi manusia!. Apa yang salah dengan suku-suku seperti Jawa, Madura, Batak, Kalimantan, dan yang lainnya?. Apakah mereka para orang Silungkang merasa bahwa Silungkang adalah ras yang paling unggul di bandingkan suku-suku lainnya? Apakah mereka merasa suku-suku lain tak lebih baik dari mereka?. Pemikiran ini terus di doktrin oleh orang-orang tua kita kepada anak-anaknya dari kecil, entah seperti apa bentuk doktrinnya tersebut, ada yang menakut-nakuti kejelekan-kejelekan suku lain, bahkan yang paling parah ada yang mengancam anaknya sendiri. Yang patut di sesalkan di sini adalah mengapa mereka malah mengajarkan kepada anak-anak mereka sendiri arti keindividualismean? Bukannya kepluralismean?. Coba renungkan, mengapa bangsa Indonesia bisa di jajah selama 350 tahun oleh Belanda?. Bukankah karena adanya sifat kedaerahan?. Bukankah karena tidak adanya rasa persatuan antar suku?. Terima kasih kepada para orang tua Silungkang yang telah mengajari kami arti anti sosial yang sesungguhnya. Mungkin bila Belanda menyerang sekali lagi, orang-orang Silungkang yang di PKS ini akan sibuk melarikan diri sendiri dan meninggalkan saudara-saudara mereka yang tengah bertempur mati-matian. Karena mungkin menurut mereka itu bukan urusan kami.


Lalu buat apa para miliser itu berdiskusi bagaimana caranya kita memajukan Silungkang?. Apa yang harus di majukan bila ternyata pemikiran para orang tua Silungkang yang ada di Jakarta malah mentradisionalkan pemikiran-pemikiran anak-anaknya sendiri. Nah, bila begini bagaimana bisa maju?. Bukankah sama saja seperti kecoak di dalam tempurung?. Saya rasa tepat bila saya menganalogikannya seperti itu. Karena tempurung menyimbolkan batas atau belenggu yang membuat kecoak itu berputar-putar di dalam tempat itu saja. Dan ketika ada orang yang mencoba melihat isi di balik tempurung tersebut, ia langsung terkejut dan merasa jijik. Begitulah nasib kecoak di dalam tempurung. Ruwet sendiri di dalam kandangnya sendiri dan tidak di sukai. Tidak ada cara lain, bila para kecoak itu tidak mau melihat zaman maka yang terjadi adalah Silungkang di masa mendatang akan sekedar menjadi sebuah miniatur di dalam kaca yang di letakkan di museum. Mungkin sebenarnya inilah keinginan mereka, mengabadikan Silungkang sebagai sebuah artefak belaka.

1 komentar:

rickyrizky mengatakan...

Bro rejak -- benar-benar satu pemikiran yang sangat mendalam dan tanpa rasa dendam sama sekali. Two thumbs up for you man. Ane baca di tabloid SUARA SILUNGKANG, dan di sana dijelaskan, pernikahan antar silungkang, dulu... karena KAN (Ketua Adat Nagari) takut rahasianya terungkap di luar Nagari. dan ini hanya berlaku untuk kaum WANITA, bukan Laki-laki.
Jadi memang pertanyaan yang sangat ingin disampaikan, apa sebenarnya yang kita ikuti saat ini ya? doktrin ? atau suatu pembelajaran?
Satu lagi dalam hal kebanggan akan suatu suku.. hmm .. dengan ceteknya ilmu agama, tapi masih sempet membaca satu karya fiksi: IBLIS MENGGUGAT TUHAN, di sana iblis menyampaikan DOSA yang dia lakukan adalah KESOMBONGAN akan ASAL DIRINYA. Wow .. berarti kesombongan akan asal usul, adalah DOSA pertama yang muncul di alam sana ... jadi jangan heran bro rejak, kalau itu diikuti di dunia, alam yang lebih rendah dari alam di sana ... :))