Rabu, 05 September 2007

Ratu Adil / Si Babi Berkedok Nabi

Oleh : Rejak


Kira-kira sekitar sebulan yang lalu sewaktu saya dan ketiga rekan perjuangan saya yaitu, Dion, Arif, dan Rashta mengunjungi kafe kecil di daerah Bulungan yang bernama ‘Warung Apresiasi’ atau sering di sebut juga sebagai Wapres. Maksud hati kami hanya hendak melihat band-band yang tampil malam itu, namun tidak di sangka-sangka ada suguhan special di malam itu. Ada seorang penyair yang akan membacakan puisinya pada keesokan harinya, akan tetapi si MC meminta beliau untuk bersedia membacakan barang 2-3 puisinya. Penyair berambut gimbal itu di sebut-sebut oleh si MC sebagai AM KM (plesetannya : Anda Meminta Kami Memutarkan), tetapi nama aslinya adalah Amil Kamil (maaf kalau ada kesalahan). Mungkin hitung-hitung sekalian pemanasan, si Mas AMKM ini bersedia memenuhi permintaan si MC untuk naik ke atas panggung dan bersajak sedikit. Penampilannya di panggung sungguh luar biasa, hingga membuat semua yang hadir di situ, termasuk kami terpana.


Dalam salah satu puisinya ada sebaris kata yang membuat saya tersenyum geli. Kata-kata itu adalah ”Babi berkedok Nabi”. Metafora tersebut menurut saya adalah sebuah ungkapan yang tepat di tujukan kepada mereka-mereka yang berlagak sebagai Ratu Adil, di mana aksinya tersebut hanya sekedar ingin meraih simpati dari masyarakat. Kita sering melihatnya di sekitar kita. Dari politikus-politikus tengik yang gemar mengobral janjinya, sampai dengan ustad-ustad palsu yang berlindung di balik ayat-ayat suci.


Tetapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah, ternyata ungkapan ’Babi berkedok Nabi’ juga saya temukan di dalam milis kesukuan tempat saya dan teman-teman bergulat pemikiran bersama urang awak sekalian. Ya, di dalam milis Silungkang.
Sosok Ratu Adil gadungan itu muncul tatkala terjadinya perdebatan sengit yang terjadi di antara para miliser. Dengan keputusannya yang bijak (menurutnya sendiri), ia seakan-akan ingin menciptakan kedamaian di milis tersebut seperti dahulu kala dengan cara memvonis beberapa pemuda yang kritis pandangannya.
Lalu Ratu Adil gadungan ini mulai mencampur adukkan antara kedua realitas secara hiperbola, yakni realita tekstual dan dunia yang sebenarnya. Hingga mulai berhembuslah isu dari mulut ke mulut orang Silungkang yang memang besar mulutnya, hingga menjadikan masalah yang sebenarnya sekecil kelereng menjadi sebesar bola basket.


Rupanya Ratu Adil ini hendak berskenario, yaitu membesar-besarkan masalah yang sekecil kelereng tadi dengan cara melibatkan pihak luar yang berpengaruh (orang Silungkang yang tidak ikut bergabung di dalam milis), hingga masalah tersebut menjadi semakin tersebar luas dan tak terkendali. Tentu saja pihak-pihak luar yang tidak terjun secara langsung ke dalam kolam milis menjadi terkecoh. Menurutnya tindakan si Ratu Adil gadungan ini adalah sebuah langkah tepat dan patut di puji. Ratu Adil si penyelamat!. Dia mampu menengahi perselisihan antara kedua kubu dengan bijak. Makin harumlah namanya bak semerbak bunga mawar hingga ke langit tujuh tingkat. Namun sayang sekali pihak-pihak luar yang memang tidak ikut terjun langsung ke dalam milis tidak menyadari wujud asli si Ratu Adil gadungan ini. Di mana the second attitude nya itu tak ubahnya bagai seorang anak yang baru puber. Untuk menutupi kedoknya itu dia berlindung di balik sikap-sikap bijak palsunya itu. Manusia yang memiliki dua wajah. Sungguh mengerikan.


Sebenarnya apakah yang membuat seseorang, terutama orang Silungkang, baik yang berada di dalam milis ataupun di luar ini berkeinginan untuk menjadi Ratu Adil hingga tanpa di sadari dirinya malah tak ubahnya bagai ’Babi berkedok Nabi’?.
Coba di perhatikan lebih jeli lagi. Sebenarnya tradisilah yang mau tidak mau memaksa mereka berlomba-lomba menjadi Ratu Adil gadungan. Karena memang kultur kekerabatan antar orang Silungkang ini sangat dekat. Jadinya, kadang orang-orang Silungkang tak terlepas terlebih dahulu dari interogasi sakral ”Anak siapo ko? Mamaknya Siapo? Andenya Siapo?, dll”. Nah, interogasi semacam inilah yang mau tidak mau terkadang membuat ciut nyali anak-anak mudanya dan segan. Belum lagi bila ada yang dari awal orang tuanya memang sudah menyandang ’nama besar’. Bagi mereka (pemuda-pemuda) yang dari awal memang sudah ’keberatan nama’ orang tuanya, bisa jadi ruang gerak mereka dalam bersikap dan bertindak menjadi semakin sempit. Karena yang di pikirkannya adalah bagaimana bila nanti nama orang tuanya jatuh di mata urang awak karena dia salah bertindak? Bukan tak mungkin, tradisi gosip orang Silungkang yang turun temurun membuat para anak mudanya menjadi jaim (jaga image). Pada akhirnya lahirlah pria-pria muda Silungkang yang oportunis. Sistem inilah yang mematikan mereka dan menjadikan mereka seolah seperti robot bernyawa. Mereka bersedia melakukan apa pun, bahkan mengenakan kacamata kuda, hanya untuk menjaga namanya harum di mata urang awak, hingga ia tak membuat jelek nama orang tuanya sendiri.


Generasi pengecut ini lahir prematur dalam kandungan tradisi yang sudah usang. Mereka ikut-ikutan terjerumus ke dalam kekolotan pikiran kecoak-kecoak tradisionalis, dan sama-sama bermain dalam kubangan lubang WC yang sama. Hanya sedikit mereka yang berani menatap tajam ke arah depan tanpa menoleh ke belakang. Hanya sedikit mereka yang berani berpandangan kritis. Hanya sedikit mereka yang berani bersuara lantang. Hanya sedikit mereka yang berani menuding kesalahan di depan hidung orang yang bersalah tersebut. Mungkin mereka-mereka inilah Ratu Adil yang sesungguhnya dalam konteks di peradaban kontemporer ini. Mereka tak merasa berat memikul nama orang tua dan nenek moyangnya, karena mereka hanya menginginkan kebebasan, ingin menunjukkan kebenaran dan ingin membuka mata dan telinga para urang awak tentang zaman yang bergerak . Menurut saya, mereka ini berbeda dari Ratu Adil gadungan, yakni si Babi berkedok Nabi. Namun sebaliknya, bisa jadi mereka sebenarnya adalah Nabi berkedok Babi.

4 komentar:

rickyrizky mengatakan...

Seorang nasrudin Hoja dalam suatu kisahnya; 3 orang kawan nasrudin datang membawa satu karung uang emas, mereka meminta nasrudin untuk membaginnya sesuai dengan KEADILAN TUHAN. Nasrudin bingung, dan kemudian mulailah di baginya. Si A mendapatkan 1/2 si B mendapatkan 2/5 sisanya si C. Tentunya si C sangat marah begitu juga si B. Lalu dengan entengnya nasrudin mengatakan, kalau kalian meminta adil menurut saya, maka saya akan bagi rata, tapi karena kalian minta KEADILAN TUHAN, itulah Keadilan Tuhan. Di sini saya ingin sharing, bahwa keadilan seorang manusia tentunya tetap tidak akan pernah ADIL bagi lainnya, untuk membuat sesuatu adil, maka dikenallah istilah keren saat ini WIN WIN SOLUTION. Dalam mencapai WIN WIN SOLUTION, tentunya harus melalui tahap diskusi. Dalam tahap diskusi, tentunya pihak yang berkenaan semua harus hadir dan dibicarakan bersama. Kisah Nasrudin di atas, A, B, dan C mereka menerima keputusan nasrudin; B & C yang protes, namun mereka jgua di ajak untuk berdiskusi dengan A dan Nasrudin. Tapi apabila keadilan manusai (WIN WIN SOLUTION) diambil dari informasi sepihak, tentunya keadilan itu hanya suatu ADIL bagi yang diuntungkan. Satu pihak akan merasa dirugikan dan tentunya doa yang dirugikan akan mudah menembus HIJAB antara manusia dan Tuhannya. Nah menurut saya, selama yang tidak diadilkan ini akan sabar dan tetap berdoa, tentunya keseimbangan dari sang Tuhan pasti akan datang. WIN WIN SOLUTION -> OUTCOME dari DISKUSI SEMUA PIHAK TERKAIT. Bukan membuang pihak yang tidak sepaham.

Tomi mengatakan...

untuk bung rejak
dlm postingan di milist lo sering bilang lagi mabok
hehehe.. tapi mana ada orang mabok bikin artikel.

ada beberapa pertanyaan dari gw.
kita semua tau masih banyak pemikiran konserfatif dialam milist.
tapi kenapa dalam kebanyakan postingan lo mengunakan kata mabok, bir,nengak?
padahal kata2 itu adalah tabu bagi mereka.

apalah ini bagian dari sekenario decontruksi rekontruksi
atau adakah filosofi dibalik bir. seperti "filosofi kopi" ( karya 'Dee' )
mungkin gw sulit memahami pemikiran lo tapi gw coba untuk balajar


satu lagi,
gambar bokong (coba nyari bahasa yg sopan) digunakan untuk mengucapkan permintaan maaf atau terimakasih. Why ???

dari segi pemikiran di beberapa artikel dlm blog gw setuju sama lo.
tapi dalam penyampaian di posting gw bener2 ngak ngerti.
mungkin gw sulit memahami pemikiran lo tapi gw coba untuk balajar

nb: sebenernya ini mau gw posting ke milist tapi yang dituju sedang tidak ada di tempat

rickyrizky mengatakan...

Wah untuk tomi -- bagus sekali pertanyaannya , sangat jelas. boleh saya coba memberikan suatu ilustrasi maksud dari bro rejak (mudah mudahan sama).

Suatu filsafat : *Nenggak Bir*, mungkin sangat risi bagi para mereka yang tidak pernah mendengarnya atau mungkin pura pura tidak tahu. Bagi saya - tenggak bir, lebih ditujukan kepada kebanyakan warga silungkang yang sudah terlalu mabuk kepayang dengan jubah kebanggaannya. Contoh jubah kebanggan yang selalu ditonjolkan adalah ; prestasi masa lalu, seperti; silungkang yang mendapatkan listrik pertama, istri gajah mada adalah orang silungkang, songket silungkang yang sangat unik yang pada kenyataannya itu memabukkan mereka untuk tidak maju. Mungkin gambaran saya, samalah dengan diri kita, jika kita berbicara dengan teman (khususnya bagi yang sudah married lebih dari 6 tahunan lah) - wah dulu saya kuliah sering olah raga, 5 hari sekali, dst. Tapi kadang kita kurang mau melihat kondisi saat ini: ternyata...wah perut sudah buncit, kalau malam kepala cekot cekot, belum jadi sering sakit-sakitan, merokok jadi kuat, dan lainnya. Bagi mereka yang menyadari ... "kalau dulu saya bisa, kenapa saya sekarang tidak bisa" , tapi bagi yang sudah berkata, "yah itu saya dulu" hmm bagi saya itulah yang sebenar-benarnya telah menenggak bir. Kejayaan masa lalu menjadi kebanggaan disaat keterpurukan atau stagnasi.

Gambar bokong, ehm .. kalau boleh sedikit saya ungkapkan - ini merupakan suatu informasi, bahwa mereka bukanlah orang yang SUCI (saat ini), ini adalah suatu pelajaran kepada mereka yang mudah mudahan merasa SUCI namun kenyataannya memiliki *kegiatan* lain yang *TIDAK SUCI*. Bagi mereka, lebih baik mereka mengaku tidak *SUCI* saat ini namun tetap ingin *SUCI*. Namun, seandainya , bagi yang berpura-pura *SUCI* (yah mungkin itulah yang terlihat dari wacana milis) - pada saat *kedok* terbongkar, mampukah dia menghadapinya?

yah seperti dalam komen saya sebelumnya (di artikel sebelum) ; LEBIH BAIK KAMI MENJADI BODOH TAPI KAMI TAHU AKAN KEBODOHAN KAMI, DARIPADA KAMI PINTAR TAPI KAMI TERLALU TAHU AKAN KEPINTARAN KAMI.

Suara Suara Di Balik Tembok Silungkang mengatakan...

terima kasih untuk tomi yang mau membuka pandangannya dan tidak mau buru-buru mengambil kesimpulan dari satu sisi saja.

sebenarnya yang tejadi di milis sendiri itu adalah semacam adanya generation gap yang semakin lebar di antara para pemuda dan orang tua.
dari sini kita sudah bisa lihat. Tidak bakal ada kemajuan di tubuh PKS bila generation gap ini tidak di atasi. Salah satunya ya pemuda-pemuda seperti kita ini musti kritis dan berani mendobrak tradisi. Untuk selanjutnya mungkin nanti kita bisa ketemuan di suatu tempat biar lebih enak. Soalnya kalo yang muda-muda biasanya lebih nyambung.

Untuk masalah bokong. Sebenarnya gambar ini bisa di lihat dari berbagai sudut pandang. Tidak musti yang buruknya saja. Namun gambar tersebut masih memiliki interpretasi yang lain.

Namun kami berempat melayangkan gambar bokong ke milis tersebut sebagai perayaan kebebasan kami setelah di penjara selama satu hari oleh pak hansip.

terima kasih bro